Jumat, 25 Oktober 2019

Faktor-Faktor Kenakalan Remaja



Mengapa seorang anak melakukan tindakan kriminal?

Dalam menjawab mengapa seorang Anak melakukan tindak kriminal, maka yang didapatkan bukanlah faktor tunggal melainkan berberapa faktor yang secara bersama-sama menjadi sebab terjadinya kriminalitas Anak, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Dalam konteks internal, yang mempengaruhi tindak kriminalitas anak adalah kepribadian, konsep diri, penyesuaian sosial, tugas perkembangan dan kemampuan penyelesaian masalah yang rendah. Sedangkan faktor eksternal adalah bagaimana lingkungan keluarga seperti pola asuh, lingkungan sekolah dan lingkungan teman sebaya berpengaruh terhadap anak.

Faktor Internal

Ketika membahas masalah kenakalan atau tindakan kriminal yang dilakukan oleh anak, hal yang ingin diketahui adalah apa yang melatarbelakangi atau faktor yang menyebabkan anak melakukan tindakan kriminal. Faktor internal yang mempengaruhi perilaku kenakalan oleh anak, merupakan aspek kepribadian yang berasal dari dalam diri anak seperti konsep diri yang rendah (Yulianto, 2009), penyesuaian sosial serta kemampuan menyelesaikan masalah yang rendah, sikap yang berlebihan serta pengendalian diri yang rendah. Konsep diri adalah bagaimana individu memandang dirinya sendiri meliputi aspek fisik dan aspek psikologis. Aspek fisik adalah bagaimana individu memandang kondisi tubuh dan penampilannya sendiri. Sedangkan aspek psikologi adalah bagaimana individu tersebut memandang kemampuan-kemampuan dirinya, harga diri serta rasa percaya diri dari individu tersebut.

Faktor internal berupa ketidakmampuan remaja dalam melakukan penyesuaian sosial atau beradaptasi terhadap nilao dan norma yang ada di dalam masyarakat. Bukti ketidakmampuan anak/remaja dalam melakukan penyesuaian sosial adalah maraknya perilaku kriminal oleh remaja yang tergabung dalam geng motor, membolos serta aksi mereka yang selalu berhubungan dengan tindakan kriminal seperti memalak anak-anak sekolah lain, memaksa remaja lain untuk ikut bergabung dengan geng mereka serta ada beberapa anggota yang pernah melakukan tindakan kriminal pencurian motor. Hal tersebut menunjukkan ketidakmampuan remaja-remaja tersebut dalam berperilaku adaptif, mereka memiliki kemampuan penyesuaian sosial serta kemampuan menyelesaikan masalah yang rendah, sikap.

Selain hal itu, remaja berada dalam tahapan perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, dengan tugas perkembangan untuk pencarian jati diri, tentang seperti apa dan akan menjadi apa mereka nantinya (Ericson dalam Sandrock, 2003). Dalam kondisi ini maka anak-anak ini berada dalam tahap perkembangan identity vs identity confusion menurut klasifikasi Ericson (dalam Hurlock, 1998). Bila berhasil maka anak akan mencapai tahap perkembangan dipenuhinya rasa identitas diri yang jelas, dan sebaliknya anak akan mengalami kebingungan identitas bila gagal dalam melewati tahap perkembangan ini.

Faktor Eksternal

Faktor eksternal yang besar pengaruhnya terhadap anak dengan kriminalitas adalah keluarga dalam hal ini kondisi lingkungan keluarga. Kondisi lingkungan keluarga pada masa perkembangan anak dan remaja telah lama dianggap memiliki hubungan dengan munculnya perilaku antisosial dan kejahatan yang dilakukan oleh remaja. Beberapa penelitian mengenai perkembangan kenakalan dan kriminalitas pada remaja, ditemukan bahwa tindak kriminal disebabkan adanya pengalaman pada pengasuhan yang buruk. Ketiga pola asuh orang tua terhadap anak yaitu pola asuh autoritarian, permissive dan univolved ini menyebabkan seorang anak berperilaku anti sosial.
Pada pola asuh otoritarian, orang tua menerapkan disiplin yang sangat kaku dan terkadang penuh dengan kekerasan, tidak jarang anak mengalami pengasuhan yang buruk, kasar, menyia-nyiakan dan ada kekerasan di dalam keluarga saat anak dalam masa perkembangan awal anak-anak, maka anak akan memiliki harga diri yang rendah. Tidak hanya itu, anak juga akan mengembangkan perilaku kekerasan tersebut pada saudaranya dan juga mengembangkan perilaku antisosial. A Budi (2009) menemukan bahwa pola asuh authoritarian orangtua mempunyai hubungan positif yang sangat signifikan dengan agresivitas pada anak binaan lembaga pemasyarakatan anak Kutoarja Jawa Tengah. Pola asuh otoriter yang diberikan oleh orang tua atau sikap negatif yang ditunjukkan oleh orang tua berupa kedisiplinan yang keras, kemarahan dan kekerasan yang ditunjukkan orang tua dalam pengasuhan dengan perilaku antisosial remaja.

Pola asuh yang dikategorikan sebagai pola asuh permisif indulgen, atau pola asuh neglected parenting atau ada juga yang menerapkan pola asuh otoritarian itu tidak ada pengembangan internalisasi nilai-nilai moral sebagai dasar terbentuknya pertimbangan moral dan hati nurani. Sehingga menurut Evans, Nelson, Porter dan Nelson (2012), dapat mempengaruhi munculnya perilaku antisosial pada anak. Penelitian Torrente dan Vazsonyi (2008) juga menunjukkan bahwa pengasuhan yang diberikan oleh ibu memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap munculnya perilaku kenakalan dan tindak kriminal yang dilakukan oleh anak. Ketika ibu tidak memberikan pengasuhan yang tepat, tidak memberikan perhatian yang cukup pada anak tentang kegiatan di sekolah atau kegiatan dengan temannya dapat memicu terbentuknya perilaku kenakalan dan tindak kriminal pada anak.

Ketika anak mengalami pengasuhan yang buruk, kasar, disia-siakan dan ada kekerasan di dalam keluarga saat anak dalam masa perkembangan awal anak-anak, maka anak akan memiliki harga diri yang rendah, juga akan mengembangkan perilaku kekerasan tersebut pada saudaranya dan juga mengembangkan perilaku antisosial. Kemudian pada saat anak-anak mulai masuk di lingkungan sekolah, anak dengan harga diri yang rendah akan mendapatkan isolasi dari kelompok sebayanya dan mengalami kesulitan dalam sekolah, membolos, serta mengalami kegagalan dalam kegiatan akademik di sekolah. Anak-anak tersebut kemudian berkembang menjadi remaja yang memiliki kecenderungan untuk berasosiasi dalam geng, dan kelompok sebaya yang menyimpang, serta pengarahan diri dalam kekerasan, karena menganggap teman sebaya seperti itulah yang dapat menerima kondisi mereka.
Saat mereka beranjak dewasa, mereka akan meneruskan perilaku kekerasan, penerimaan dan kekerasan dalam hubungan pribadi, dan berkelanjutan dalam siklus kekerasan ketika mereka menikah dan menerapkan pola asuh yang mengandung unsur kekerasan pada anak-anaknya. Sehingga anak-anaknya akan berkembang menjadi individu yang melakukan kenakalan dan tindakan kriminal. Hal tersebut serupa dengan penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku agresi atau kekerasan memiliki kontribusi secara genetik atau diturunkan oleh orangtua pada anaknya terutama dalam perilaku antisosial. Pola hubungan di dalam keluarga antara orangtua dan anak yang buruk juga bersifat genetik atau diturunkan. Mekanisme perkembangan perilaku antisosial di atas berbentuk siklus, sehingga tindakan kekerasan atau pengasuhan yang tidak tepat oleh orang tua akan membentuk rantai siklus perkembangan yang menyebabkan anak melakukan perilaku kekerasan atau bahkan tindakan kriminal.

KRISIS MORAL REMAJA, TANGGUNG JAWAB SIAPA?


Bukan suatu hal yang asing lagi saat ini banyak anak muda yang mengalami krisis moral. Data Unicef tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa kekerasan kepada sesama remaja di Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen.

Tak berhenti di situ, kekerasan remaja pada orang tua dan guru juga tampak ramai akhir-akhir ini. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, seorang murid berani menantang, bahkan memukul gurunya.

Selain kekerasan, perilaku menyimpang dari pemuda saat ini juga mengarah ke dalam seks bebas. Menurut Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, tingkat kenakalan remaja yang hamil dan melakukan upaya aborsi mencapai 58 persen. Tak hanya itu, berbagai penyimpangan remaja, seperti narkoba, miras, dan berbagai hal lainnya juga memperburuk moral generasi muda kita.

Menyikapi berbagai potret buram perilaku-perilaku menyimpang para remaja tersebut, tebersit pertanyaaan "Siapa yang harus bertanggung jawab?" Ini harus menjadi fokus semua pihak. Baik itu orang tua, guru, maupun negara. Karena mereka yang berperan dalam proses pendidikan remaja.

Orang tua berkewajiban memberikan pengajaran tentang kepribadian sejak dini. Menanamkan nilai-nilai agama adalah yang utama bagi mereka, sehingga mereka dapat tumbuh berkembang dengan kepribadian yang baik. Guru atau pihak sekolah juga berkewajiban memberikan pengajaran karakter kepada remaja. Seorang guru juga harus memberikan keteladanan yang baik untuk siswa-siswi remajanya.

Selain dua pihak tersebut, negara wajib menyelenggarakan pendidikan yang berbasis agama. Tidak memisahkan agama dari pendidikan, mendukung para remaja dalam pengembangan bakat atau kemampuan. Serta mendorong mereka dalam mengkaji Islam.

Seperangkat dengan negara, aturan dan hukum yang berlaku harus mampu memberikan pencegahan dan sanksi bagi remaja yang menyimpang jauh dari asusila, seperti seks bebas, aborsi, narkoba dan lainnya.

Sabtu, 21 September 2019

Kebakaran Hutan



Kawasan hutan biasanya dapat ditemui pada wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida, habitat berbagai jenis hewan dan tumbuhan, modulator arus hidrolika serta pelestarian tanah.
Hutan juga sebagai salah satu aspek biosfer bumi yang paling penting. Di Indonesia, perlindungan hutan bahkan diatur dalam undang-undang. Menurut undang-undang tentang Kehutanan nomor 41 tahun 1999, hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
Walaupun hutan merupakan kawasan yang penting bagi kelangsungan hidup banyak mahkluk hidup, nyatanya masih ada kasus kebakaran hutan. Penyebab kebakaran hutan bisa disebabkan secara alami maupun disebabkan oleh ulah manusia.

Penyebab Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, namun juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian milik masyarakat yang berada tinggal di dekat kawasan hutan. Secara umum, penyebab kebakaran hutan dapat disebabkan oleh petir, kecerobohan ulah manusia dan pembakaran hutan yang disengaja oleh manusia.

1. Penyebab kebakaran hutan disebabkan oleh kondisi alam
Penyebab kebakaran hutan secara alami biasanya memiliki dampak yang tidak terlalu luas. Kebakaran hutan akibat alam tidak akan menelan kerugian besar. Penyebab kebakaran hutan yang disebabkan oleh alam bisa terjadi karena musim kemarau yang panjang, sambaran petir, aktivitas vulkanik di gunung berapi dan ground fire atau kebakaran didalam lapisan tanah gambut akibat kemarau panjang.

2.  Penyebab kebakaran hutan akibat ulah manusia
Penyebab kebakaran hutan akibat ulah manusia sering kali menjadi penyebab utama kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia. Manusia yang membakar hutan memiliki beberapa alasan. Manusia biasanya membakar hutan dengan tujuan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok sehingga rela membakar hutan yang merupakan kawasan dilindungi oleh negara. Salah satu alasan manusia membakar hutan adalah untuk pembukaan lahan perkebunan. Manusia sengaja membakar hutan menjadikan kawasan tersebut menjadi lahan perkebunan yang bisa memberikan keuntungan bagi segelintir orang. Jika perusahaan telah turut andil, tak jarang kebakaran hutan menelan kawasan dengan skala yang luas.

Beberapa contoh kasus kebakaran hutan,antara lain :
Kebakaran Hutan di Riau
Salah satu kasus kebakaran hutan yang melanda di Indonesia baru-baru ini seperti kebakaran hutan yang melanda di Riau. Kebakaran hutan di Riau bahkan melebar hingga seluas 858 hektare. Hutan dan kawasan gambut di Riau yang terbakar membuat para petugas gabungan mengalami kesulitan untuk memadamkan api.
Kesulitan memadamkan api diakibatkan oleh luasnya lahan dan tiupan angin yang kencang pada kawasan hutan yang terbakar tersebut. Hutan yang terbakar itu berlokasi di kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Riau. Penyebab kebakaran hutan di Riau yang sebagian besar membakar lahan gambut tersebut salah satu contoh penyebab kebakaran hutan yang diakibatkan oleh ulah manusia. Manusia dengan sengaja membakar kawasan hutan yang berada di Riau tersebut.

Kebakaran di Hutan Amazon
Amazon adalah hutan hujan tropis terbesar di dunia. Simpanan karbon di Amazon dapat memperlambat laju pemanasan global. Selain itu, Amazon juga menjadi rumah bagi tiga juta spesies tumbuhan maupun hewan, serta satu juta penduduk adat. Pemerintah Brazil berdalih bahwa kebakaran disebabkan karena fenomena alam seperti kekeringan, angin, serta cuaca yang panas. Namun, kenyataannya, penyebab kebakaran di Amazon tak sesederhana itu. Menurut NASA, sebagaimana diwartakan Newsweek, hutan Amazon sebetulnya relatif tahan api mengingat kondisinya yang lembab. Akan tetapi, sebuah gejala yang terkait dengan perubahan iklim antropogenik serta aktivitas manusia di hutan telah membuat jumlah kebakaran melonjak. Para peneliti sepakat: kebakaran yang terjadi baru-baru ini kemungkinan besar adalah ulah dari manusia.

Mengingat sedemikian kompleknya dampak yang diakibatkan oleh kebakaran hutan sudah selayaknya kita semua mewaspadai. Sekalipun tinggal jauh dari hutan, menumbuhkan kesadaran akan bahaya kebakaran hutan mugkin salah satunya.

Jumat, 13 September 2019

BJ Habibie Merupakan Idola Untuk Masyarakat Indonesia



Cirebon – Presiden RI ke-3, BJ Habibie, tutup usia. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Seobroto dalam usia 83 tahun.

BJ Habibie yang dijuluki sebagai ‘The Father of Science and Technology in Indonesia” ini banyak meninggalkan ilmu untuk para penerus bangsa. Habibie memiliki segudang prestasi yang mengharumkan bangsa Indonesia hingga saat ini.

Ia dikenal cerdas sejak duduk dibangku sekolah dasar. Lalu, ia melanjutkan ke perguruan tinggi Institut Teknologi Bandung (ITB). Hanya setahun beliau kuliah disana, ia mendapatkan kesempatan berupa beasiswa di Aachen, Jerman. Disana, ia memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Kontruksi Pesawat Terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH). Dengan kegigihannya, ia lulus dengan mendapatkan gelar Doktor dengan nilai cumloude. Prestasi yang ia terapkan dibidangnya membuat ia banyak meraih penghargaan dari banyak kalangan.

Terbukti bahwa Habibie merupakan idola bagi masyarakat Indonesia. Anies Baswedan yang merupakan Gubernur DKI Jakarta dan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini mengatakan bahwa BJ Habibie merupakan inspirasi dan idola bagi jutaan keluarga dan anak-anak. Sebab selama bertahun-tahun semua keluarga mengingatkan anak-anaknya untuk hebat seperti Habibie.

“Pengalaman kita semua jutaan rumah tangga di Indonesia selama bertahun-tahun orang tua mengingatkan anak-anaknya ‘Nak belajar yang rajin, biar bias seperti Pak Habibie”, kata Anies di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat (11/9/19).

Tidak berhenti sampai disitu, Ma’ruf Amin memberi pesan bahwa BJ Habibie sudah memberikan jasa yang luar biasa untuk Indonesia dan putra-putri bangsa Indonesia.

“Beliau mengirim tenaga pengajar kita dan mahasiswa kita ke luar negeri. Setelah itu banyak yang kembali ke Indonesia memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi . Jadi beliau telah memberikan investasi kemanusiaan yang tinggi jangkauan masa depan untuk bangsa dan Negara”. Kata dia.

Tak hanya mengharumkan nama bangsa di tingkat Nasional, beliau juga mengharumkan bangsa ditingkat Internasional. Kisahnya telah beberapa kali diadaptasi menjadi film layar lebar dan dibintangi actor ternama.

Rabu, 07 Agustus 2019

Selintas Kehidupan Tanpa Gadget


Damai, Tentram Tanpa Gadget




Padamnya listrik sejak 4 Agustus 2019 di seluruh wilayah Jabodetabek, masih hangat di perbincangkan oleh Masyarakat. susahnya koneksi internet sebagai akses segala baik informasi, dan kegiatan keseharian di zaman revolusi industri 4.0 dan juga keperluan listrik di berbagai aspek pada rumah tangga dan juga perusahaan – perusahaan.
                    
Pemadaman listrik di berbagai wilayah di sebagian besar Pulau Jawa, Minggu (4/8/2019) pukul 11.45 WIB yang dikaitkan dengan gempa bumi Banten M 6,9 yang terjadi pada Jumat (2/8/2019) malam.

Menanggapi isu tersebut, Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Muhammad Sadly menegaskan, bahwa padamnya listrik yang terjadi tidak ada kaitannya dengan peristiwa gempa bumi Banten M 6,9.

"Jika padamnya listrik akibat gempa, maka listrik padam sudah terjadi sejak Jumat malam setelah pukul 19.03 WIB," kata dia, seperti dilansir Kantor Berita Antara, Selasa, 6 Agustus 2019.

Dampak gempa semacam itu, lanjut Sadly, belum mampu menimbulkan kerusakan pada struktur bangunan yang kuat. Apalagi jarak antara pusat gempa atau episenter dan lokasi PLTU Suralaya, Merak, Banten sejauh 211 kilometer sehingga percepatan getaran tanah di Suralaya nilainya sangat kecil dan tidak memungkinkan terjadinya kerusakan.

Lebih lanjut, Sadly mengatakan peta tingkat guncangan gempa bumi (shake map) Banten menyebabkan guncangan terbesar terjadi di wilayah Banten, Jawa Barat dan DKI Jakarta dalam skala intensitas III – IV MMI.

Skala itu, kata Sadly berarti getaran gempa dirasakan nyata di dalam rumah seakan – akan ada truk berlalu hingga jendela atau pintu berderik dan dinding berbunyi.
Merujuk siaran pers PT PLN Persero, Sadly mengatakan padamnya di wilayah Jakarta disebabkan oleh gangguan pada gas turbin 1 sampai 6 di suralaya. Selain itu, gangguan juga terjadi di tenaga gas turbin Cilegon, Banten.

Gangguan itu, kata dia, menyebabkan aliran listrik di Jabodetabek mengalami pemadaman. Pemadaman listrik lainnya juga termasuk di wilayah Jawa Barat karena gangguan transmisi sutet 500 kV.

Terkait adanya hal tersebut, banyak beberapa dampak yang di rasakan oleh masyarakat.
Kepada penulis di cirebon bertempat pada sekre Himpunan Mahasiswa Sipil sore hari pukul 15.00, Imam Abi Mikhjan mengatakan
“ Banyak masyarakat yang terkendala di kesehariannya, karena ini sudah zamannya teknologi maju jadi dikeseharian kita pun banyak yang terpaku pada teknologi, apalagi yang membutuhkan koneksi internet. Banyak usaha – usaha mengalami penurunan omset, terutama pada pengusaha menengah kebawah yang tidak menggunakan genset. Seperti Warnet, ojek online , bahkan ada beberapa perjalanan KRL yang di batalkan akibat adanya listrik padam ” Tutur nya


“Banyak pula masyarakat yang merasa terganggu karena padamnya arus listrik dikehidupan pribadi, terkendalanya segala informasi karena susahnya sinyal internet, dan juga kurangnya air bersih yang harus menggunakan pompa air di beberapa daerah yang memang kurangnya air bersih”. - tambahnya

Sedangkan menurut saudara Ade Luthfi merasakan banyak hal positif karena padamnya listrik “ justru saya tidak begitu merasakan dampak negatif karena adanya listrik padam, justru saya lebih merasakan dampak positif karena akhirnya masyarakat banyak yang bersilaturahmi kembali dan tidak hanya mementingkan Hpnya untuk urusan game dan lain sebagainya akhirnya mulai berdiskusi kembali, dan juga warga DKI jakarta dapat merasakan susahnya listrik dibeberapa daaerah pelosok di indonesia”


Namun bagi masyarakat pedesaan hal tersebut bukanlah masalah bagi mereka, justru hal ini adalah momen untuk berkumpul dan berdiskusi, banyak kegiatan diskusi atau kegiatan - kegiatan lainnya yang bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi. contohnya nonton bareng, pengajian rutin dan juga sekedar berkumpul untuk berdiskusi, terlebih lagi pemuda - pemuda desa yang aktif pada karang taruna desa nya masing - masing, mempersiapkan dan berdiskusi acara pada hari kemerdekaan indonesia nanti adalah makanan keseharian bagi mereka.

Itulah artikel tentang “Selintas Kehidupan Tanpa Gadget“ yang telah di rangkum , dikaji oleh penulis . mohon di kaji kembali. Artikel ini bukanlah artikel yang sempurna bagi penulis.


Jumat, 14 Juni 2019

Indonesiaku Negeri Yang Kaya



sobat pintar, sudah tau kan dan bahkan sudah tidak asing lagi ketika mendengar bahwa indonesia negri yang kaya akan sumber daya alamnya. bahkan sumber daya alamnya sudah sangat populer akan destinasinya ke negara - negara yang ada didunia lohh...
tapi saking terkenalnya, banyak juga perusahaan -perusahaan asing yang masuk ke indonesia untuk membuka cabangnya. ya tentunya, karna potensi sumber daya alamnya yang kaya dan tidak perlu diragukan lagi.

ngomong - ngomong, sobat sudah tau belum apa itu eksploitasi sumber daya alam ? 
menurut para ahli, eksploitasi sumber daya alam adalah segala bentuk atau upaya yang dilakukan untuk melakukan penggalian - penggalian dan pemanfaatan sumber daya alam yang terdapat pada suatu obyek atau wilayah tertentu demi mendapatkan dan memanfaatkanya dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan orang banyak atau umum

pembangunan industri membutuhkan eksploitasi sumber daya alam. bahkan semua barang atau bahanyang kita gunakan sehari - harisemua berasal dari alam. selain itu, eksploitasi alam juga berdampak positif untuk sektor perekonomian di indonesia.

eksploitasi sumber daya alam yang benar, akan sangat menguntungkan masyarakat dan juga tetap mempertahankan kelestarian alamnya. terlebih lagi Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam.
lalu, bagaimana dengan eksploitasi sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab ? kenyataannya di indonesia, masih banyak industri -industri yang tidak bertanggungjawab dan tidak menjaga kelestarian alam di indonesia.

Tata kelola lingkungan yang lemah dari pemerintah selama ini telah menyebaban hilangnya potensi hayati yang luar biasa, deforestasi dan degradasi lingkungan yang memprihatinkan. demikian disampaikan oleh anggota komisi ligkungan dewan perwakilan rakyat (DPR) Rofi Munawar.

segala peraturan hukum sudah dikeluarkan untuk mencegah terjadinya kerusakan alam. Tapi, bagaimana dengan adanya obral izin untuk ekspoitasi sumber daya alam ? apakah peraturan hukumnya yang kurang tegas atau aakah aaratur enegak hukumnya yang kurang tegas ?

kenyataannya justru, banyak pemerintah yang melakukan suap untuk mengeksploitasi kekayaan alam indonesia. korupsi yang masih menjadi sumber pembiayaan politik para politisi masih merajalela. obral izin eksploitasi sumber daya alam dan pembiaran pelanggaran hukum sangat berpotensi untuk memanfaatkan dan mengakomodasikan kepentingan politisi dan pelaku bisnis tertentu. 
"JATAM mencatat terdapat 326 kepala daerah,politisi dan pimpinan birokrasi yang menjadi tersangka korupsi dan diproses hukum oleh KPK sejak tahun 2010 - 2017"

Kita boleh berbangga dengan kekayaan alam yang dimiliki oleh indonesia, tapi sangat memprihatinkan jika kita melihat kenyataan bahwa kekayaan Alam Indonesia di kuasai oleh negara Asing. bahkan pasal 33 UUD 1945, kekayaan alam yag ada di indonesia dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat. tapi rakyat tidak lagi merasakan kesejahteraan dari sumber daya alam. 

"Negeri ku kaya karena rempah-rempahnya, 
tapi sayang petaninya tidak menikmatinya.
 Di negeriku satwa lautnya sangat beraneka.
 tapi sayang nelayan asing bisa mengambilnya.
Negeriku udaranya sangat sejuk karena luas hutannya,
tapi kini usang di lalap api keserakahan.nnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
  Di negeriku sangat indah ragam budayanya,
  tapi semangat pemudanya tidak melestarikannya.
Gunung-gunungnya sangat sayang jika tidak di pandang,
tapi sayang kapitalis selalu mengintainya.
Ibu aku berjanji tidak seperti manusia yang tidak manusiawi" - karya Dhannar Dhanialah
   

Jumat, 07 Juni 2019

Sarjana di Negriku Indonesia




Sarjana
Kira – kira apa yang teman – teman pikirkan ketika mendengar kata sarjana ?
Mungkin, yang akan terlintas adalah orang yang sudah mengenyam pendidikan di sebuah perguruan tinggi? Atau, sebuah gelar yang diimpikan teman – teman untuk mencari sebuah pekerjaan ?

Setiap orang punya persepsinya masing – masing . tapi siapa sangka kalo menjadi seorang sarjana itu tidak semudah yang pernah terlintas di benak kita loh...

Selama seorang yang disebut “ SARJANA” belum lulus, mereka mendapatkan predikat sebagai “MAHASISWA”, yang dimana mahasiswa mempunya tugas dan peran fungsi yang sangat amat mulia untuk perubahan di negri ini, untuk pengertian lebih lanjut, bisa klik langsung linknya disini ya https://hms82.blogspot.com/2019/06/mahasiswa-dan-tri-dharma-perguruan.html .
Dengan begitu seorang sarjana di harapkan dapat mengamalkan ilmu yang telah di dapatkan selama menjadi mahasiswa, khususnya ketika mereka di perkenalkan “ tri dharma perguruan tinggi “ yaitu (pendidikan, penelitian, dan pengabdian). Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tiga hal yang harus dimiliki atau harus ada di sebuah perguruan tinggi saat aktivitas akademik berlangsung. Dan tiga hal tersebut merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan dan dikembangkan secara berkesinambungan oleh seluruh civitas akademika di antaranya dosen dan mahasiswa.

Akan tetapi apakah kesarjanaan yang diperoleh memenuhi target kualitas? Mustahil bertanya demikian. Target 'sekedar sarjana' tanpa wawasan pendidikan yang memadai, hanya akan menjadi beban tambahan.
Yang disesalkan, tentunya hal ini tidak secara sistematis diawasi pemerintah. Perguruan tinggi swasta sekedar menangkap 'peluang bisnis menggiurkan'. Jumlah mahasiswa yang begitu banyak lebih dilihat sebagai 'keuntungan' tanpa peduli apakah hal itu efektif atau tidak.

Padahal sarjana yang berasal dari kata 'sajjana', yang artinya berwatak baik, arif dan terhormat, mestinya mengarah kepada kualitas diri. Ia sama sekali tidak ada kaitan dengan julukan eksternal sekedar memenuhi kriteria akademik di universitas, tetapi jauh dari kualitas diri yang diharapkan.

Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama merilis kondisi ketenagakerjaan Indonesia per Februari 2019. Data menunjukkan angka pengangguran turun menjadi 5,01 persen atau berkurang 50 ribu orang selama satu tahun terakhir. Tingkat penggangguran terbuka (TPT) per Februari 2019 berjumlah 6,82 juta orang. “Ada tren penurunan tingkat pengangguran terbuka sejak Februari 2016,” kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Senin (6/5).

Tapi dilihat dari tingkat pendidikannya lulusan diploma dan universitas makin banyak yang tidak bekerja. Ada sejumlah faktor yang dinilai menyebabkan peningkatan pengangguran terdidik tersebut. Salah satunya, pendidikan rendah cenderung lebih menerima pekerjaan apa pun. Ini berbeda dengan mereka yang pendidikannya lebih tinggi.

Dulu ketika gelar sarjana masih menjadi pilihan dan syarat untuk diterima kerja, Pendidikan dinilai sangat tinggi, dan berdasarkan Pendidikan kandidat pencari kerja dibedakan. Tetapi sekarang, semua itu sudah tidak terlalu dilihat oleh perusahaan. Pendidikan lebih mudah dicari dan ditempuh, dari belajar dan mendapat gelar sarjana secara online, sampai universitas di luar negeri yang membuka kampus capang di seluruh Asia, Sarjana menjadi sesuatu yang normal dan bukan pengecualian lagi.

Berbagai  penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan perusahaan masih mengharapkan pelamar kerja mempunyai Gelar Sarjana, walaupun Gelar itu tidak membawa banyak perbedaan yang signifikan bagi mereka.
Sebagai gantinya memberikan akal sebagai keterampilan yang jauh lebih berharga “Ketika Anda melihat orang-orang yang tidak pergi ke sekolah dan sukses, itu adalah manusia luar biasa. Dan kita harus melakukan semua yang bisa kita lakukan untuk menemukan orang-orang itu. ”

Itulah kenapa banyak sarjan muda dari berbagai macam perguruan tinggi, yang juga masih menyandang gelar sebagai pengangguran terdidik, salah satu faktornya adalah kurangnya skill atau kemampuan yang dimiliki, mengingat banyak bangsa asing yang telah masuk untuk membuka peluang bisnis di indonesia, maka diharapkan para sarjana dapat berinovasi untuk membuka peluang pekerjaan juga untuk yang lainnya, dengan adanya lapangan pekerjaan baru, maka itu adalah salah satu usaha untuk mengurangi pengangguran.


Itulah artikel tentang “sarjana di negriku Indonesia “ yang telah di rangkum , mohon di kaji kembali. Artikel ini bukanlah artikel yang sempurna bagi penulis.





Dampak Buruk Rokok

Kandungan zat kimia yang terdapat dalam rokok sangat berbahaya bagi kesehatan Anda dan juga orang-orang di sekitar Anda. Bahaya mero...